Siapa yg tidak
ingin anaknya berprestasi? Orangtua mana yang tidak bangga jika anaknya
mendapat penghargaan? Jawaban kedua pertanyaan tersebut sudah pasti orangtua
manapun di dunia ini ingin sekali melihat anak mereka berprestasi dan pasti bangga
akan hal itu.
Siapapun di
dunia ini terutama seorang anak sudah pasti ingin sekali membahagiakan dan
membanggakan orangtua mereka. Dan pertanyaan selanjutnya , sudahkan anda
berprestasi dan membanggakan orangtua?
Jika belum,
berarti sama halnya dengan aku. Saat usia berada diawal tombak kedewasaan maka
pertanyaan yang sering dikatakan orangtua ku adalah “lihat anak sd saja sudah
seperti itu, apa yg telah kauperbuat mana prestasimu?”
Saat pertanyaan
itu terdengar olehku dan getaran emosi yg terselip dalam kalimat itu mulai
memasuki telingaku , jantung ini berdegup lebih kencang dan mataku mulai meneteskan
air mata. Jawabannya “belum ayah” (hati
kecilku yg menjawab)
Dan jauh di
dalam hati ini bohong jika dikatakan tidak ada keinginan untuk bisa
membanggakan mereka. Aku selalu berusaha namun usaha itu belum membuahkan hasil
dan selama ini yang orangtua ku lihat hanya cerminan perilaku keseharianku di
rumah. Jika saja aku mampu untuk berkata , membuka kedua lapisan bibir ini, dan
mengungkapkan betapa aku selalu berusaha untuk menjadi yg terbaik dan itu semua
hanya untuk mereka , orangtua ku yg senantiasa sabar dan menerima aku apa
adanya. Namun lidah ini selalu kalut ketika aku berusaha untuk mengatakannya. Dan
yang terjadi hanyalah aku yg kemudian memasuki kamar untuk menangis. Tangisan itu
bukan tanpa arti tapi air mata nya itu adalah bentuk kekecewaan atas apa yang
belum bisa aku berikan pada mereka.
Bisa dikatakan
diriku di sekolah dan diriku yang ada di rumah berbeda, masih memiliki kesamaan
tetapi jika di rumah aku lebih banyak menjadi pendengar dan kebanyakan pendapat
ku ditolak mentah mentah oleh ayah, beliau sering sekali menanyakan banyak pertanyaan
yg akhirnya tidak bisa kujawab, namun jika pertanyaan itu dikatakan oleh teman
ku , aku sungguh mampu menjawab bahkan beradu argument dengan nya.
Ada satu hal
yang kuyakini bahwa ayah tidak mengenalku sepenuhnya, sering kali pandangannya
mengenai aku seperti apa aku atau ketika aku dimarahi karna sesuatu bukan lah
diriku. Dan selalu saja perkataannya menyayat setiap sendi batin ku tak pernah perkataan
itu tak pernah membuat diriku sakit hati. Jika saja ayah bisa bertanya pada teman
teman ku seperti apa aku diliar sana, mungkin ayah akan kaget dan tidak percaya
bahwa aku seperti itu.
Tapi ada hal
lain yang aku yakini yaitu kemampuanku berbicara seperti yang teman teman ku
ketahui yang setiap kalinya aku berkata mereka selalu mengagumi rangkaian
kalimat yang aku ucapkan itu semua berasal dari ayah. Aku sering mengamati
bahwa ayah ternyata memiliki sikap dan pandangan yang tegas terhadap orang
orang disekitanya dan sama halnya dengan aku. Namun yang sungguh disayangkan
ayah tidak mengerti betapa aku yang seperti ini itu berasal dari dirinya ,
berasal dari segala macam sifak, karakter, dan pola pikir.
amiiiin niceboyjg slalu mendoakaan yg terbaik :))
BalasHapus